Sejarah Berdirinya Pasar Slumpring
Dahulu, Desa Cempaka hanya sebuah gambaran nyata dari kesendatan dan ketinggalan, terperangkap dalam label IDT (Impres Desa Tertinggal). Tapi sekarang, desa itu adalah potret hidup dari transformasi luar biasa. Terletak dengan anggun di kaki Gunung Selamet di sebelah barat, hanya sekitar 30 menit berkendara dari Guci, Desa Wisata Cempaka telah mengukir namanya dalam sejarah.
Semua itu dimulai pada era kepemimpinan Bupati Ki Enthus Susmono, yang berkolaborasi dengan visi yang brilian dari Kepala Desa Abd Khayyi. Mereka menggali potensi wisata yang terpendam di pasar tradisional, dan dengan gemilang mengubahnya menjadi magnet yang menarik wisatawan dari segala penjuru.
Pasar Slumpring adalah inti dari keajaiban itu. Tersembunyi di antara kebun bambu, tempat ini bukan hanya sekadar pasar kuliner. Ini adalah panggung di mana warisan tradisional bersinar. Buka setiap hari Minggu dari pukul 07.00 hingga 13.00, pasar ini menjadi pusat kegiatan, di mana wisatawan dan penduduk setempat sama-sama terpesona oleh kekayaan cita rasa dan kehangatan budaya yang dihidangkan.
Di sini, setiap hidangan adalah kisah yang berbicara tentang warisan dan keahlian kuliner yang melekat erat pada sejarah desa. Dari makanan khas hingga hidangan inovatif, setiap suapan adalah serenade bagi lidah dan jiwa. Wisatawan datang tidak hanya untuk memuaskan perut mereka, tetapi juga untuk mengalami kehangatan dan kebersamaan yang hanya bisa ditemukan di sini.
Desa Cempaka telah bangkit dari keterbelakangan untuk menjadi mercusuar kemajuan, membawa harapan dan inspirasi bagi desa-desa lain yang juga bermimpi untuk berubah. Dalam cerita perjalanan ini, kita belajar bahwa di bawah tanah yang keras, bersembunyilah harta yang tak ternilai, siap untuk diangkat ke permukaan dengan cinta dan ketekunan.
Post a Comment for "Sejarah Berdirinya Pasar Slumpring"